hingga saat ini, sains dan doktrin agama blum bisa
menyimpulkan hakikat “apakah ada manusia lain sebelum nabi muhamad?”
sains, ketika para darwinizem (org yg mnganut teori
darwin) membuktikan teori besar darwin tentang evolusi, bukan titik kebenaran
dari teori itu yang didapat, mereka malah semakin menemukan kerancuan. hal ini
terbukti dari fosil yang ditemukan dengan umurnya yang ratusan juta abad silam,
fosil2 tersebut tidak pernah melakukan evolusi dan bentuknya masih sama hingga
saat ini. lalu, jika seandainya benar manusia hasil evolusi dari ikan. maka
seharusnya, fosil perubahan antara ikan dan manusia, atau monyet yang akan
menjadi manusia bisa ditemukan. namun kenyataanya ada sebuah missing link yang
terjadi. itu artinya, teori darwin telah gagal, atau teorinya hanya sebuah
dongeng belaka.
doktrin agama dalam epistimologinya mengkaji sebuah
wahyu, yaitu Al-Quran. Inilah sebuah sumber yang dikaji secara disiplin ilmu
dalam doktrin agama khususnya Islam. sebab Al-Quran berasal dari tuhan secara
langsung (firman), dan di yakini hakikat kebenaranya, walaupun manusia tidak
dapat mencapai kehakikatanya. dalam Al-Baqarah ayat 30, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi itu seorang
khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal
kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan
berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
(QS al-Baqarah [2]: 30).
Inilah masalah yang menjadi perdebatan para ulama
“…..Apakah
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah…..” dari ucapan malaikat tersebut.
Kita bisa menarik sebuah pertanyaan sederhana, “darimana malaikat tau kalau
manusia suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Bukankah nabi adam baru
diciptakan?” Hingga munculah berbagai argumen dari
para ulama, salahsatunya menyimpulkan bahwa ada manusia lain yang telah membuat
kerusakan dan menumpahkan darah. Namun, Al-Quran sebagai objek kajian hanya
berbicara sampai disini, dan analisis pun terhenti tanpa mencapai kebenaran
mutlak. Inilah sebuah keterbatasan manusia, kita tidak bisa mendapatkan sebuah
kebenaran secara hakikat. kita hanya harus puas dengan mencari dan mencintai
kehakikatan itu. Namun bukan berarti kita tidak perlu mencari hakikat kebenaran
dengan alasan manusia tidak bisa mendapatkan kebenaran mutlak. Kita harus tetap
mencari, sebab banyak ayat Al-Quran yg menyuruh kita untuk berpikir. Manusia
memang tidak bisa mendapatkan kebenaran mutlak tapi manusia harus tetap mencari
untuk mendekati hakikat kebenaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar