Jumat, 11 April 2014



hingga saat ini, sains dan doktrin agama blum bisa menyimpulkan hakikat “apakah ada manusia lain sebelum nabi muhamad?”

sains, ketika para darwinizem (org yg mnganut teori darwin) membuktikan teori besar darwin tentang evolusi, bukan titik kebenaran dari teori itu yang didapat, mereka malah semakin menemukan kerancuan. hal ini terbukti dari fosil yang ditemukan dengan umurnya yang ratusan juta abad silam, fosil2 tersebut tidak pernah melakukan evolusi dan bentuknya masih sama hingga saat ini. lalu, jika seandainya benar manusia hasil evolusi dari ikan. maka seharusnya, fosil perubahan antara ikan dan manusia, atau monyet yang akan menjadi manusia bisa ditemukan. namun kenyataanya ada sebuah missing link yang terjadi. itu artinya, teori darwin telah gagal, atau teorinya hanya sebuah dongeng belaka.

doktrin agama dalam epistimologinya mengkaji sebuah wahyu, yaitu Al-Quran. Inilah sebuah sumber yang dikaji secara disiplin ilmu dalam doktrin agama khususnya Islam. sebab Al-Quran berasal dari tuhan secara langsung (firman), dan di yakini hakikat kebenaranya, walaupun manusia tidak dapat mencapai kehakikatanya. dalam Al-Baqarah ayat 30, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi itu seorang khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Inilah masalah yang menjadi perdebatan para ulama “…..Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah…..dari ucapan malaikat tersebut. Kita bisa menarik sebuah pertanyaan sederhana, “darimana malaikat tau kalau manusia suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Bukankah nabi adam baru diciptakan?” Hingga munculah berbagai argumen dari para ulama, salahsatunya menyimpulkan bahwa ada manusia lain yang telah membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Namun, Al-Quran sebagai objek kajian hanya berbicara sampai disini, dan analisis pun terhenti tanpa mencapai kebenaran mutlak. Inilah sebuah keterbatasan manusia, kita tidak bisa mendapatkan sebuah kebenaran secara hakikat. kita hanya harus puas dengan mencari dan mencintai kehakikatan itu. Namun bukan berarti kita tidak perlu mencari hakikat kebenaran dengan alasan manusia tidak bisa mendapatkan kebenaran mutlak. Kita harus tetap mencari, sebab banyak ayat Al-Quran yg menyuruh kita untuk berpikir. Manusia memang tidak bisa mendapatkan kebenaran mutlak tapi manusia harus tetap mencari untuk mendekati hakikat kebenaran